Selasa, 10 April 2012

KISAH ANAK PENJUAL KORAN

KISAH ANAK PENJUAL KORAN 
By : Abu Nabigh

 Seperti biasa kalau acara libur kantor aku harus mengantar istri ke pasar untuk membeli sayuran. Libur kali ini enak, tanggal merah jatuh pada hari jum’at jadi libur tidak masuk kerja bisa 3 hari. Sampai di dekat pasar aku lihat parkiran penuh, istriku turun dari kendaraan dan aku bilang “ bunda, aku tunggu di masjid saja ya, di sana lebih enak dan parkirannya luas. Istriku sambil tersenyum mengatakan “iya tidak masalah” Sampai di halaman masjid benar kulihat halamannya yang luas dan banyak tempat kosong. Setelah ku parkirkan kendaraanku dengan baik aku menuju kearah masjid. Kulihat di jam tanganku menunjukkan waktu pukul 07.25, sepertinya bisa ini aku melakukan sholat dhuha. 


Germercik air wudlu membasahi tangan dan kaki, segera kulangkahkan kaki menuju masjid, tetapi ketika aku hendak membuka pintu masjid, semuanya pintu masjid terkunci. Aduh ada apa ini, sepertinya pengurus masjid belum membuka pintu masjid; Sholat dhuha tidak jadi ku lakukan, karena aku tidak bisa masuk ke dalam masjid, langkah kaki ku menuju depan masjid kembali ke parkiran. 

Saat di depan masjid aku melihat di bawah pohon ada seorang anak di hadapan tumpukan Koran sedang duduk. Pikirku beli Koran sajalah bisa di baca sambil menunggu istriku. Akhirnya aku membeli satu Koran dan mulai kubuka halaman demi halaman, siapa tahu ada berita yang menarik. Tapi pikiranku tidak bisa konsentrasi membaca Koran karena lebih terfokus pada anak si penjual Koran. “ dik, sudah lama jualan Koran?” Tanya ku kepada si anak penjual Koran itu. “ tidak juga om, ini mumpung liburan om, jadi ikut bantu-bantu jualan Koran”. Karena ada jawaban dari si anak penjual Koran aku ingin ngobrol lebih lama, aku pikir si anak ini juga sedang istirahat karena raut muka capek dan keringat mengalir di pipinya masih ada. “jadi adik sekolah juga?” Tanya ku. “iya om, kami sekolah kelas 5 SD”. “jualan Koran seperti ini bagaimana caranya?”. Si anak itu menjawab sambil meletakan Koran yg tadinya di pangkuannya “ini om, kami mengambil ke distributor, dan nanti setelah semua Koran yang terjual kami baru setor ke distributor.” Aku semakin pengen tahu cerita anak ini. “ lha terus kamu modalnya berapa, berapa kamu untung seperti ini?”. Anak itu dengan polos menjawab “ kami tidak pakai modal, hanya mengambil Koran saja, tiap satu Koran yang terjual kami mengambil untung Rp 400,- saja, kalaupun tidak habis terjual tinggal diserahkan kembali kepada distributor”. 

Dalam hati ku berpikir, sedikit sekali untungnya Rp 400,-, kadang malah uang logam Rp 100,- atau Rp 200,- yang terjatuh di rumah saja kadang tidak dihiraukan, namun anak ini mengumpulkannya dan mencari uang yan terhitung ratusan, subhanallah. “dalam sehari bisa menjual berapa eksemplar Koran?’ si anak kecil itu menjelaskan “paling banyak terjual 60 eksemplar, tapi bisanya habis 40an om”. 

Dalam hati aku menghitung paling banyak dapat uang Rp 24.000,- dan tiap hari minimal Rp.16.000,-. Kembali aku bertanya : “untuk apa uang itu dik?” si anak itu sambil menyeka keringatnya mengatakan “ uang itu untuk saya tabung, dan buat di tabung beli kebutuhan sekolah”. “anak yang temenmu memang seperti ini?” “tidak semua seperti kami om, kami lebih baik bangun pagi, jualan Koran, dan itupun paling sampai jam 10 an kami selesai jualan, jadi masih ada waktu untuk bermain”. Si anak itu menambahi “kami ingin lebih om, makanya kami harus kerja lebih juga, dan cara seperti ini yang kami bisa.

Tiba-tiba ada seorang pengemudi motor berhenti dan memanggil anak itu, anak itu berlari sambil menyarahkan Koran, dan mengambil uang dari si pembeli, Si Anak mencari uang dalam kantong tasnya untuk mengambil kembalian si pembeli; Di saat itulah aku teringan kata-kata anak itu yang kepingin lebih makan dia berusaha keras. 

Memang ada kata bijak yang berkata aku ingin lebih makanya “ saat orang tidur, aku bangun, saat orang bangun, aku sudah berdiri, dan saat orang berdiri aku sudah jalan, saat orang jalan aku sudah berlari, saat orang berlari aku harus sudah terbang”. 

Jika ingin lebih kita harus lebih juga usahanya di banding orang lain

Ku lihat dari jauh, istriku sudah menuju tempat parker maka segera aku menghampirinya dan memasukan belanjaan kedalam mobilku. Sungguh hari ini aku harus belajar kepada si anak penjual Koran,

1 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com